Senin, 25 Juli 2011

Kejar Grand Slam dengan Fisika


Seusai saya memberikan kuliah fisika tenis di Tokyo Denki University Jepang, Prof. Nakamura dekan fakultas informatika TDU  menyalami saya dan mengatakan, anda pasti seorang pakar tenis (expert). Wah saya terkejut sekali... Mau tahu ceritanya gimana fisika bisa membuat seorang yang tidak bisa main tenis sama sekali dipuji sebagai pakar tenis?  Ikuti ceritanya yuk...
 Tahu yang namanya Serena Williams? Tentu saja, Serena kan juara Grand Slam untuk keempat kalinya berturut-turut. Luar biasa sekali! Untuk mendapatkan Grand Slam Serena harus menjuarai Australia Terbuka (lapangan komposit/semen), Amerika Serikat Terbuka (lapangan komposit), Perancis Terbuka (lapangan tanah liat), dan Wimbledon (lapangan rumput). Apa memang semudah itu menaklukkan lawan-lawan  tangguhnya, di berbagai negara yang memiliki kondisi lapangan tenis yang berbeda-beda? Apa rahasianya? Yuk, kita intip fisikanya… 


Sweet spots
Pernah lihat raket tenis yang dipakai pemain legendaris Fred Perry di tahun 1935-an. Itu lho  raket yang dilelang dengan harga 23.000 pound (sekitar 340 juta rupiah). Raket  ini sangat berbeda dengan raket yang ada sekarang. Raket  sekarang kepalanya sangat besar dibandingkan dengan raket kunonya Fred Perry dan berbentuk lebih lonjong (Gambar 1). Tahu nggak kenapa raket sekarang kepalanya lebih besar?  Jawabannya  bukan sekedar agar bola lebih mudah dipukul, tetapi ada alasan fisikanya lho, yaitu sweet spots.

Sweet spots merupakan daerah-daerah di kepala raket yang enak untuk dipukul dan memberikan keuntungan-keuntungan tertentu bagi para pemain.  Pada raket kuno sweet spots terletak agak ke bawah dekat leher raket, sedangkan pada raket kepala besar,  sweet spots terletak agak ke tengah (gambar 2). Ada 3 jenis sweet spots:  node,  center of percussion (COP) dan  maximum coeficient of restitution (COR).   Kita selidiki yuk ketiga titik ini....

Timpuk bola ke kepala raket dengan keras, apa yang terjadi? Raket akan bergetar bukan? Perhatikan bahwa  tidak semua titik pada raket ikut bergetar. Ada titik yang tidak ikut bergetar yang dinamakan node (gambar 3). Kalau bola yang ditimpukkan tepat mengenai  node, raket tidak akan bergetar sehingga tangan si pemegang raket terasa lebih nyaman. Nah itu sebabnya node digolongkan sebagai  sweet spots.  
Sekarang  pegang raket pada posisi mendatar. Jatuhkan bola di berbagai tempat pada kepala raket dan amati tinggi pantulannya. Aneh, tinggi pantulan bola tidak sama untuk semua titik. Ada titik  dimana bola tidak dipantulkan sama sekali (bola langsung mati). Titik ini disebut dead spots. Letaknya dekat dengan ujung raket Tetapi ada pula titik yang memantulkan bola sangat keras. Menurut fisika titik ini mempunyai koefisien pantul (coeficient of restitution/COR) yang sangat besar. Titik ini sering disebut titik COR. Para pemain kaliber dunia seperti Hingis dan Venus Williams berlatih keras supaya pukulannya selalu mengenai titik  COR agar bola pantulnya bergerak dengan kecepatan tinggi. Keuntungan-keuntungan  pantulan inilah yang menyebabkan titik ini digolongkan sebagai  sweet spots. Letak titik COR dipengaruhi oleh luasnya kepala raket dan kelenturan batang raket.

Masih pada posisi raket mendatar, sekarang hantamkan bola dari atas dengan kecepatan tinggi pada berbagai daerah di kepala raket. Apa yang terjadi? Raket terasa terdorong keras ke bawah (bertranslasi) dan terputar (berotasi).  Namun ini tidak terjadi pada  semua titik. Ada titik dimana jika titik ini dihantam  bola,  raket hanya berotasi murni (terputar saja). Oleh orang fisika titik ini dinamakan  center of percussion (COP).   Jadi jika bola mengenai titik COP, tangan kita tidak perlu menahan dorongan translasi. Tangan terasa lebih nyaman, itu sebabnya  titik COP  juga digolongkan sebagai  sweet spots. Gimana asyik khan... tahu rahasia sweet spots.

 Serve
Permainan tenis selalu dimulai dengan serve. Tapi sayangnya para pemain amatir biasanya justru tidak terlalu mempedulikannya. Lain halnya dengan pemain profesional tingkat dunia. Mereka justru mengasah kemampuan mereka untuk melakukan  serve sesempurna mungkin karena justru pada saat  serve ini mereka punya kesempatan untuk mencuri angka dan mengendalikan permainan. 
Nama-nama seperti Pete Sampras, Boris Becker, dan Goran Ivanicevic dikenal jagoan dalam melakukan serve karena bisa mencapai kecepatan 190-215 km/jam. Greg Rusedski memegang rekor serve dengan 239,8 km/jam sedangkan untuk pemain cewek, Venus Williams yang memegang rekor dengan 205 km/jam. Hebat yah.... Kecepatan sebesar itu semuanya dihasilkan dari ayunan raketnya! Secepat apa sih tangannya mengayunkan raket? Di sinilah fisika mengintip masuk. 
Untuk menghasilkan serve yang hebat, Venus Williams  harus melakukan ayunan menembus udara dengan memperhitungkan faktor posisi raket, proyeksi dan kecepatan tumbukan, serta mengkoordinasikan semuanya dengan pergerakan tubuhnya (wah banyak amat fisikanya...). Agar bola bergerak dengan kecepatan tinggi, serve dikondisikan supaya raket menumbuk bola tepat di daerah dead spot. Letak   dead spot jauh dari tangan. Menurut fisika   titik yang terjauh dari tangan (pusat putaran) mempunyai kecepatan yang tertinggi. Bukan itu saja, ketika bola mengenai daerah  dead spot,  hampir seluruh momentum raket dipindahkan ke bola (nah bisa ngebayangin kan sekarang, betapa dahsyatnya kecepatan bolanya Venus ini).  Eh masih  ada lagi lho keuntungan  serve ini. Disini bola mengenai titik yang paling jauh atau paling tinggi dari raket, sehingga peluang masuknya (melewati net) lebih besar.
Eh tahu nggak  serve  yang dahsyat dapat membuat orang jadi juara Wimbledon lho.  Bob Falkenbur, pernah  jadi  juara Wimbledon hanya dengan modal serve dan volley yang dahsyat saja. Nggak pakai teknik-teknik lain. Pemain lain yang serve-nya ditakuti orang adalah Arthur Ashe, John Doeg dan tentu saja Pete Sampras si pemain yang dijuluki mempunyai serve yang terbaik dan konsisten. 

 Topspin
Bola yang ber-spin (berputar terhadap sumbunya) seringkali membuat lawan kalang kabut. Spin bisa merubah arah bola ketika sedang bergerak di udara atau merubah pantulan bola  ketika dipantulkan tanah (ground). Dalam tenis dikenal 3 jenis spin dasar: topspin, backspin(underspin) dan  sidespin.  

Pada topspin bola berotasi searah dengan arah gerak majunya (Gambar 4), sedangkan backspin berlawanan dengan arah gerak majunya, dan  sidespin tegak lurus arah gerak majunya (gambar 4)
Topspin memberikan banyak keuntungan  bagi sipemain. Bola dengan topspin akan melengkung lebih tajam, mengurangi kemungkinan  out dan membuat bola memantul lebih tinggi. Menurut perhitungan Howard Brody (fisikawan yang juga pemain tenis), bola yang dipukul dengan topspin  32 putaran per detik akan memantul 24 % lebih tinggi dibandingkan dengan bola yang dipukul dengan backspin. 
Pada gambar 5, ketika bola bergerak dengan   topspin, udara dibagian bawah bola (A) akan bergerak lebih cepat dibandingkan dengan udara di bagian atas bola (B). Menurut fisika, udara yang bergerak lebih cepat akan berkurang tekanannya. Perbedaan tekanan antara  daerah A dan B ini menyebabkan bola terdorong ke bawah (dari B ke A).  Dorongan ke bawah inilah yang membuat bola melengkung tajam kebawah. 
Pada bola dengan  backspin, bola akan bergerak lebih melebar sehingga kemungkinan bola keluar lapangannya (out) lebih besar. Menurut perhitungan Brody, bola  lob dengan kecepatan 125 km/jam (dengan  backspin) akan jatuh diluar lapangan, bandingkan dengan bola topspin yang walaupun dipukul dengan kecepatan 160 km/jam tetap masih jatuh di lapangan. Nah perhitungan inilah yang menyebabkan si pemukul keras  Pete Sampras dan Andre Agassi bola  lob-nya berputar  dengan topspin. Brody, bola  lob dengan kecepatan 125 km/jam (dengan  backspin) akan jatuh diluar lapangan, bandingkan dengan bola topspin yang walaupun dipukul dengan kecepatan 160 km/jam tetap masih jatuh di lapangan. Nah perhitungan inilah yang menyebabkan si pemukul keras  Pete Sampras dan Andre Agassi bola  lob-nya berputar  dengan topspin. 


Struktur Tanah
Wimbledon dikenal sebagai lapangan cepat (lapangan rumput) sedangkan lapangan tanah liat di Perancis Terbuka merupakan lapangan lambat. Lapangan di Amerika Serikat dan Australia Terbuka merupakan komposit sehingga karakteristiknya berada di antara lapangan cepat dan lapangan lambat. Serena Williams, Steffi Graf, Martina Navratilova dan petenis dunia lain yang sudah berhasil mendapatkan Grand Slam berhasil menaklukkan semua lapangan yang berbeda-beda ini. Mau tahu trik bermain di lapangan-lapangan yang berbeda ini, ikuti terus yuk tulisan ini...
Pada lapangan rumput gesekan dengan bola sangat kecil sehingga energi bola yang hilang akibat gesekan sangat kecil. Akibatnya bola tetap memiliki kecepatan yang tinggi setelah memantul dari permukaan rumput. Nah itulah sebabnya lapangan rumput Wimbledon ini sering disebut lapangan cepat.  Dalam lapangan cepat ini trik yang harus digunakan adalah melakukan serve yang cepat dan dahsyat.  Serve cepat ini akan sulit dijangkau lawan sehingga cepat mendapatkan angka. Penonton banyak yang mengeluh karena dengan semakin canggihnya raket yang digunakan dan semakin pintarnya pemain (mungkin karensudah belajar fisika!) permainan tenis  di Wimbledon menjadi terlalu cepat dan membosankan. Satu cara mengatasinya adalah memperbesar diameter bola agar bola bergerak lebih lambat.
Dilapangan tanah liat triknya berbeda  lagi. Disini gesekan lebih besar sehingga bola pantul akan bergerak lebih lambat (kecepatannya bisa berkurang lebih dari 40%). Disamping itu menempelnya butiran-butiran tanah liat pada bola akan membuat bola lebih berat dan  bergerak lebih  lambat lagi. Karena lambatnya bola bergerak, lapangan di Perancis terbuka ini sering disebut lapangan lambat. Disini  serve yang terlalu kuat menjadi tidak efektif. Pemain harus banyak memanfaatkan  spin. Gesekan yang besar dapat membuat bola  topspin  dipantulkan dengan sudut pantul lebih besar dari perkiraan dan bola bergerak lebih cepat. Sedangkan bola  backspin akan dipantulkan dengan sudut yang lebih kecil dari perkiraan dan bergerak lebih lambat.    
Bagaimana, asyik nggak ceritanya? Sebenarnya masih banyak sekali cerita fisika dalam main tenis misalnya pukulan  forehandnya Sampras,  backhandnya Navratilova, volleynya Agassi lalu hebatnya gabungan  topspin dan sidespin yang dikenal dengan American twist serve yang sangat sulit dilakukan itu, belum lagi berbagai rahasia bola tenis dan masih banyak lagi. Yang pasti fisika tenis itu memang asyik...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar